PAPUA TENGAH - Silas Papare merupakan nama tokoh nasional yang dikenal berkat perjuangannya mempertahankan persatuan Indonesia. Ia dengan gigih menyuarakan agar Irian Barat, yang kini adalah Papua, untuk bersatu ke dalam wilayah Indonesia.
Namanya telah diabadikan di salah satu Kapal Perang milik TNI AL, di Pangkalan Udara TNI AU Sentani, serta nama sebuah jalan di Nabire.
Berikut profil tentang Silas Papare, orang asli Papua yang telah dianugerahi gelar Pahlawan Nasional:
Silas Papare lahir di Serui, Kepulauan Yapen, Papua pada tanggal 18 Desember 1918. Dulu, daerah ini masih termasuk jajahan Belanda dan disebut dengan Nugini Belanda.
Kehidupan masa kecilnya tidak terlalu banyak tercatat, hanya riwayat pendidikannya dan karirnya yang dapat diketahui secara lengkap.
Silas menempuh pendidikan keperawatan di Sekolah Juru Rawat pada tahun 1935 hingga lulus dan bekerja di rumah sakit Serui. Ia sempat pindah ke Sorong untuk menjadi ketua perawat di sebuah rumah sakit swasta milik perusahaan minyak NNGPM di Sorong pada tahun 1936.
Pada tahun 1940, Silas kembali ke Serui dengan tetap sebagai perawat hingga awal tahun 1942 saat Jepang masuk ke Indonesia. Disinilah kehidupannya mulai berubah.
Tahun 1944, Silas Papare direkrut sebagai mata-mata Amerika Serikat dan Belanda untuk melawan kedudukan Jepang di Papua. Saat Perang Dunia II berakhir, Belanda berusaha mengambil kembali kekuasaan di Papua yang membuat Silas bersama dengan rekannya membentuk organisasi untuk memberontak.
Namun, usaha pemberontakan tersebut gagal mengakibatkan Silas dijebloskan ke penjara di Serui. Selama masa tahanannya tersebut, ia bertemu dengan Gubernur Sulawesi, Dr. Sam Ratulangi, yang juga sedang menjalani masa pengasingannya oleh Belanda.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Riset Penulis