PAPUA TENGAH - Sejumlah massa yang tergabung dalam Front Rakyat Papua (FRP) melakukan aksi demonstrasi damai pada Selasa (7/4) sore di depan kantor DPRK Mimika. Aksi ini menyerukan penutupan operasional PT Freeport Indonesia (PTFI) dan militerisasi di Tanah Papua.
Tuntutan ini juga ditulis dalam sebuah spanduk bertuliskan "Front Rakyat Papua Timika Tutup PT Freeport sebagai Dalang Penindasan di Tanah Papua. Lawan Investasi, Lawan Militerisasi".
Selain menuntut penghentian operasional PTFI, demonstran juga meminta untuk mengembalikan Otonomi Khusus (Otsus) ke pemerintah pusat juga pembubaran Majelis Rakyat Papua (MRP).
Baca juga: Pemkab Mimika Siapkan Lahan untuk Pembangunan Sekolah Rakyat Terintegrasi 76 Mimika
Demonstran menganggap PTFI telah menjadi penyebab berbagai persoalan di Papua termasuk penindasan terhadap rakyat Papua itu sendiri. Massa juga menilai MRP belum memberikan dampak signifikan terhadap kesejahteraan rakyat Papua.
Total ada enam tuntutan yang diminta oleh FRP terhadap pemerintah Papua yaitu:
- Mengembalikan Otsus sebagai bahan tawaran politik Jakarta sejak tahun 2001 hingga saat ini.
- Membubarkan Majelis Rakyat Papua (MRP) di seluruh Tanah Papua.
- Menutup PT Freeport Indonesia.
- Mengembalikan hak-hak masyarakat adat yang dinilai telah dirampas.
- Menghentikan investasi dan militerisme yang dinilai berdampak negatif di Papua.
- Memberikan hak menentukan nasib sendiri bagi Orang Asli Papua.
Baca juga: ASN Papua Tengah Mulai WFH Setiap Hari Jumat
Setelah penyampaian pendapat, Ketua DPRK Mimika, Primus Natikapereyau, menerima semua tuntutan secara langsung dari perwakilan massa.
Primus menyatakan kesiapan untuk menyalurkan aspirasi masyarakat ke tingkat pemerintahan yang lebih tinggi.
“Aspirasi ini akan kami kawal supaya tidak menimbulkan keresahan di masyarakat. Harapan saya masyarakat kecil bisa hidup berdampingan dengan orang lain,” ujar Primus.
Aksi demonstrasi yang berlangsung tertib dan damai ini juga diapresiasi oleh anggota DPRK Mimika lainnya, Mathius Uwe Yanengga. Ia berharap dengan penyampaian apresiasi dengan cara ini dapat menghindari permusuhan antar rakyat Papua.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Nabire.net