Selasa, 09 SEPTEMBER 2025 • 13:06 WIB

Festival Asmat Pokman 2025 Dibatalkan Akibat Kekerasan Terhadap Tim Seleksi

Author

Pameran seni Ukir di kabupaten Asmat (Dok. Keuskupan Agats)

Papua Tengah - Keuskupan Agats secara resmi mengumumkan pembatalan Festival Asmat Pokman (FAP) 2025 yang sedianya akan diselenggarakan pada bulan Oktober mendatang. 

Keputusan drastis ini diambil menyusul insiden kekerasan yang menimpa dua anggota tim seleksi ukiran di Distrik Youw pada 16 Agustus lalu.

Korban, John Ohoiwirin dan Pastor Lukas Lega Sando, Pr., diserang oleh sekelompok warga yang keberatan dengan aturan seleksi ukiran. 

Akibat insiden tersebut, John mengalami luka serius di kepala, sementara Pastor Lukas menderita keretakan tulang hidung. Keduanya sempat menjalani perawatan di RSUD Perpetua Safanpo Agats sebelum akhirnya dirujuk ke RSUD Timika untuk penanganan lebih lanjut.

Baca juga: HUT ke-80 RI dan Jateng, Pameran UMKM Catat Omset Rp1,4 Miliar

Uskup Agats menjelaskan bahwa akar masalah insiden ini adalah kesalah pahaman mengenai aturan seleksi. Sejak era almarhum Yuvensius Biakai, terdapat larangan untuk melombakan ukiran Asmat yang telah digunakan dalam ritual adat. 

Aturan ini bertujuan untuk menjaga kesakralan benda-benda yang diyakini memiliki roh. Namun, sebagian pengukir menolak aturan tersebut dan bersikeras agar ukiran sakral tetap dapat diikutkan dalam seleksi, yang kemudian memicu keributan.

Uskup Agats mengeluarkan empat keputusan penting terkait masalah ini diantaranya: 

Penghentian Festival: Festival Asmat Pokman 2025 dihentikan sampai waktu yang belum ditentukan.

Proses Hukum: Para pelaku kekerasan harus diproses sesuai dengan hukum yang berlaku.

Rekonsiliasi: Perlunya dilakukan rekonsiliasi adat dan iman Kristiani untuk memulihkan luka akibat peristiwa ini.

Pertimbangan Ulang: Festival dapat dipertimbangkan kembali pelaksanaannya jika proses rekonsiliasi berjalan baik dan menghasilkan solusi positif.

"Saya amat sedih dan sesal serta duka yang mendalam atas kejadian tersebut," demikian pernyataan Uskup Agats dalam suratnya.

Uskup juga mengimbau para tokoh adat dan tokoh umat untuk duduk bersama mencari jalan damai. Ia menekankan bahwa rekonsiliasi adalah kunci utama agar seni ukir Asmat tetap menjadi pemersatu, bukan pemicu perpecahan.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Rilis

Author
TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU