Anak penerima Makan Bergizi Gratis (MBG) (dok/Kementerian Sekretariat Negara Rebuplik Indonesia)
PAPUA TENGAH - Gerakan terbaru dari Badan Gizi Nasional (BGN) Wilayah Nabire yang mewajibkan seluruh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) untuk membeli produk dari usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) lokal. Hal ini sebagai upaya untuk mendukung ekonomi daerah lewat penyediaan Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pada Kamis (26/02/2026) di Nabire, Koordinator Wilayah BGN Nabire, Marsel Asyerem menyatakan larangan bagi SPPG seluruh Nabire untuk membeli produk makanan yang berasal dari pabrikan perusahaan besar, terutama untuk sesi paket menu sehat kering.
Sebagai gantinya, SPPG diwajibkan untuk membeli produk dari UMKM lokal. Produk tersebut bisa berupa roti rumahan, lontar, perkedel dan makanan lokal lainnya. Jika masih ditemukan produk dari pabrikan besar, maka akan ditegur. Masyarakat penerima MBG juga diminta untuk melapor jika masih menerima makanan pabrikan.
Alasan dibalik kebijakan ini antara lain merupakan arahan dari pemerintah pusat untuk bisa memenuhi gizi anak-anak sekaligus menyejahterakan ekonomi lokal.
Marsel juga menjelaskan salah satu manfaat adanya SPPG di Nabire yaitu mampu menggerakkan ekonomi daerah. Sebanyak 11 SPPG sudah beroperasi aktif di Nabire dengan serapan tenaga kerja mencapai 564 orang.
Anggaran sebanyak Rp1 miliar per bulan diserahkan ke masing-masing SPPG untuk belanja bahan makanan dan biaya operasional sehingga bisa menggerakkan ekonomi daerah hingga Rp11 miliar setiap bulannya.
UMKM mendapat dampak secara langsung dari kebijakan baru tersebut. Selain menambah pendapatan juga bisa menambah lagi serapan tenaga kerja baru.
Program MBG saat ini seperti sudah menjadi fenomena baru yang menarik terutama untuk anak-anak sekolah. Saat ini, MBG di Nabire telah menyasar lebih dari 22 ribu penerima manfaat.
Selain soal makan gratis yang bergizi, MBG juga bisa menjadi faktor penggerak ekonomi lokal baru. Setiap hari kerja, SPPG bertugas untuk membeli bahan makanan di pasar lokal maupun UMKM, mengolahnya dan kemudian mendistribusikannya kepada penerima.
Sehingga, tidak hanya membutuhkan bahan makanan, tetapi SPPG juga membutuhkan tenaga kerja baru yang akhirnya menggerakkan roda ekonomi daerah.
Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi
Sumber: Antara Papua Tengah