Jumat, 22 MEI 2026 • 14:24 WIB

Mengenal 3 Hewan Endemik Asal Papua Tengah

Author

Tiga satwa endemik asal Papua Tengah

PAPUA TENGAH - Tanah Papua merupakan rumah dari segala macam fauna, flora dan sumber daya alam yang sangat kaya. Mulai dari spesies yang sering ditemui hingga spesies langka yang hanya ada di Papua. 

Sekitar 60 juta tahun lalu, Pulau Papua yang bersatu dengan daratan Australia mulai memisahkan diri akibat tumbukan aktif antar lempeng tektonik. 

Sebagai daratan yang terpisah dari pulau-pulau lainnya di Indonesia, Papua memiliki beragam spesies fauna yang termasuk endemik dan lebih mirip dengan fauna di Australia. 

Baca juga: Mengenal Frans Kaisiepo, Pahlawan Persatuan Indonesia dari Tanah Papua

Berikut tiga satwa endemik yang ada di Papua khususnya di Papua Tengah:

1. Dingiso

Dingiso (Dendrolagus mbaiso) (Wikimedia)

Dingiso (Dendrolagus mbaiso) merupakan satwa endemik Papua Tengah yang mirip dengan kanguru di Australia. Hewan ini dikategorikan sebagai kanguru pohon yang juga dikenal oleh warga lokal dengan nama Bakaga.

Orang lokal terutama Suku Moni percaya bahwa Dingiso yang juga diberi nama ilmiah Mbaiso merupakan binatang sakral yang merepresentasikan roh leluhur. 

Habitatnya ditemukan di dalam Taman Nasional Lorentz tepatnya di sekitar dataran tinggi dengan ketinggian sekitar 3200 hingga 3400 meter di atas permukaan laut. 

Ciri-ciri Dingiso antara lain memiliki tubuh yang cukup besar dengan panjang sekitar 52-81 sentimeter, panjang ekor 40-94 sentimeter dan berat mulai dari 6,5-14,5 kilogram. Karena hidup di pohon, Dingiso memiliki adaptasi tubuh khusus berupa lengan panjang dan berotot, ekor panjang untuk menjaga keseimbangan serta kaki belakang besar dan empuk untuk memanjat pohon.

Sayangnya, Dingiso memiliki status sangat langka dan nyaris punah hingga jumlahnya hanya sekitar 10-15 ekor di setiap spesiesnya.

2. Kasturi Kepala Hitam

Kasturi kepala hitam (Lorius lory) (Wikimedia/Eric Lefevre)

Hewan endemik dari Papua Tengah lainnya adalah burung bernama Kasturi Kepala Hitam (Lorius lory). Hewan ini dapat ditemukan di habitat aslinya yaitu Papua Nugini dan sudah dilepasliarkan di berbagai konservasi seperti Cagar Alam Nabire.

Ciri khas yang langsung dikenali dari burung ini yaitu bulu berwarna merah di bagian tubuh dan warna hitam di bagian atas kepala menciptakan ilusi seperti memakai topi. Sebagai burung kecil, ia memiliki suara merdu bervariasi untuk berkomunikasi satu sama lain.

Kasturi Kepala Hitam termasuk kedalam jenis burung paruh bengkok yang menghabiskan waktunya di pohon tinggi dalam hutan. Makanan utamanya adalah buah dan nektar juga serangga.

Burung ini rentan punah karena habitatnya yang semakin digerus habis serta maraknya perburuan liar. 

3. Hiu Paus

Hiu paus (Rhicodon typus) (lautsehat.id)

Dari dunia laut, Papua Tengah khususnya di Teluk Cenderawasih, Nabire, merupakan rumah salah satu ikan terbesar di dunia yaitu Hiu Paus (Rhincodon typus). 

Hius paus merupakan jenis satwa yang gemar bermigrasi, sehingga keberadaannya dapat terdeteksi di berbagai negara seperti Meksiko, Taiwan dan Filipina.

Secara morfologi, hiu paus memiliki ukuran tubuh dari 2-12 meter bahkan ada yang hingga 20 meter. Bobotnya sekitar 34 ton menjadikannya sebagai satwa laut terbesar dan terberat yang pernah hidup di dunia. Ciri khasnya adalah adanya totol-totol putih di sepanjang tubuh berwarna abu kebiruan.

Meskipun termasuk ke dalam kelompok hiu, hiu paus cenderung jinak dan mudah berinteraksi dengan manusia. Makanan utamanya adalah plankton, makro alga dan berbagai hewan kecil seperti cumi-cumi. Ia makan dengan cara menyaring air oleh mulutnya yang sangat besar, mirip seperti paus pada umumnya.

Baca juga: Menjelajah Keindahan Teluk Cenderawasih, Bisa Lihat Hiu Paus Langsung dari Habitatnya

Menurut status yang diberikan IUCN Red List, hiu paus termasuk kedalam kelompok terancam punah dan dilindungi oleh negara. Tubuhnya yang besar seringkali jadi target perburuan liar atau tertangkap jaring ikan secara tidak sengaja. 

Itu dia tiga satwa endemik yang bisa kalian lihat di Papua Tengah. Hampir semuanya memiliki status terancam punah karena perilaku tidak bertanggung jawab oleh manusia. Sehingga, dibutuhkan perhatian khusus oleh pemerintah dan instansi terkait agar keberadaannya tetap lestari dan memperkaya khasanah fauna Indonesia.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis, Mongabay

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU