Kamis, 21 MEI 2026 • 22:18 WIB

Mengenal Frans Kaisiepo, Pahlawan Persatuan Indonesia dari Tanah Papua

Author

Frans Kaiesiepo (tempo.co)

PAPUA TENGAH - Salah satu pahlawan nasional dari Tanah Papua yang memiliki peran penting dalam persatuan Indonesia yaitu Frans Kaisiepo

Ia merupakan tokoh sejarah paling terkenal di seluruh Papua hingga namanya diabadikan menjadi nama bandara di Kabupaten Biak dan wajahnya terpampang di pecahan uang Rp10.000.

Orang yang pernah menjabat sebagai Gubernur Provinsi Papua keermpat ini menerima gelar pahlawan nasionalnya pada tahun 1993 berkat usahanya dalam menyatukan Irian Barat dengan Indonesia. 

Berikut fakta menarik mengenai Frans Kaisiepo:

Orang Asli Papua 

Frans Kaisiepo lahir di Wardo, Biak, Provinsi Papua pada 10 Oktober 1921 dari pasangan Albert Kaisiepo dan Albertina Maker. Ia tumbuh besar di zaman penjajahan Belanda dan merasakan 

Ia merupakan anak sulung dari enam bersaudara dengan diasuh oleh tante dari pihak ayahnya. Ibunya meninggal dunia sejak Frans masih kecil sehingga ia harus menjaga kelima adiknya sejak dini. 

Frans tumbuh menjadi remaja yang memiliki jiwa kepemipinan kuat serta diberikan berbagai bekal moral dari tradisi sukunya, Biak Numfor. Tradisi ini mengajarkan para laki-laki muda beranjak dewasa berbagai keterampilan hidup dan pendidikan moral serta cinta tanah air.

Jejak Pendidikan Formal dan Awal Karir 

Frans Kaisiepo mengecap pendidikan formal pertamanya di Sekolah Desa Kelas 3 dan berhasil lulus sembari menjalani pendidikan adatnya. Ia melanjutkan pendidikan ke Vervolgschool atau Sekolah Sambungan di Korido, Kecamatan Supiori. 

Setelah lulus di tahun 1934, Frans memutuskan untuk menempuh pendidikan tinggi di Sekolah Guru di Miei, Wandamen hingga tahun 1936 dan mulai menjalani karirnya sebagai guru. 

Ia menjalani profesi sebagai guru di beberapa sekolah bahkan hingga diberikan amanah menjadi kepala sekolah.

Saat Jepang datang ke Irian Barat, Frans sedang bekerja di Sekolah Rakyat Kpudori, Biak sebagai kepala sekolah dan terpaksa ditawan untuk dijadikan mandor perusahaan kapas Jepang di Manokwari.

Saat Jepang pergi karena kalah dari Sekutu, Frans memutuskan untuk sekolah kembali di Sekolah Bestuur atau Pamong Praja yang mengantarkannya ke bidang pemerintahan. 

Di tahun 1953, ia berhasil menjalani berbagai posisi mulai dari kepala Distrik Ransiki Manokwari, Kepala Distrik Kokas Fak-Fak, Kepala Pemerintah Setempat Sukarnopura, sampai Wakil Residen di Sukarnopura.

Akhirnya di tanggal 10 November 1964, Frans Kaisiepo diberikan amanat untuk menjadi Gubernur/Kepala daerah Tingkat I Irian Barat selama dua periode. 

Perjuangan Bersatu dengan Indonesia

Frans Kaisiepo merupakan orang pertama di Papua yang mengibarkan bendera merah putih dan mengumandangkan lagu Indonesia Raya. Ia berperan besar dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia dari agresi Belanda yang ingin menguasai kembali Papua pada 31 Agustus 1945.

Di tahun 1946, Frans merupakan satu-satunya perwakilan Papua yang diutus Nederlands Nieuw Guniea di Konferensi Malino, Sulawesi Selatan. Pada konferensi tersebut, Frans menentang keras pembentukan "Negara Indonesia Timur" yang terdiri dari Maluku dan Papua.

Ia mengusulkan agar Papua diganti menjadi nama "Irian" yang dalam bahasa Biak artinya "beruap" atau "panas". Nama "Irian" akhirnya resmi dipakai bahkan hingga provinsi tersebut bergabung dengan Indonesia.

Setelahnya, ia mendirikan Partai Indonesia Merdeka di Biak sebagai aksi mempertahankan kemerdekaan dan perlawanan. Aksinya ini berbuntut pada penjeblosannya ke penjara oleh Belanda dari tahun 1954 hingga 1961.

Pada tanggal 1 Mei 1963, Presiden Soekarno menandatangani Perjanjian New York yang berisi tentang wilayah Papua akan dikembalikan oleh Belanda ke Indonesia. Sejak saat itu, Irian Jaya resmi bergabung dengan Republik Indonesia.

Penghargaan atas Perjuangan

Berkat perjuangannya menyatukan Irian Jaya dengan Indonesia, Frans Kaisiepo dianugerahi Bintang Maha Putra Adi Pradana Kelas Dua. Ia juga dipercaya sebagai Dewan Pertimbangan Agung mewakili Papua pada 1977.

Berdasarkan keputusan Presiden nomor 077/TK/1993, Frans Kaisiepo diberi gelar pahlawan nasional Indonesia dan namanya diabadikan sebagai nama bandara dan kapal perang TNI Angkatan Laut, KRI Frans Kaisiepo 368. Wajahnya juga diabadikan di pecahan uang Rp10.000 emisi 2016 hingga saat ini. 

Frans Kaisiepo merupakan salah satu pahlawan nasional Indonesia yang namanya selalu harum karena berkat perjuangannya, Indonesia memiliki keindahan dan kekayaan alam Tanah Papua hingga saat ini. 

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Riset Penulis

TERPOPULER
TAG POPULER
BERITA TERBARU