Kategori Berita

KANAL

REGIONAL

Kamis, 11 JUNI 2026 • 10:31 WIB

Kenaikan Harga Pertamax Resahkan Pengemudi Ojek Online di Merauke

Kenaikan Harga Pertamax Resahkan Pengemudi Ojek Online di MeraukeKenaikan harga BBM sangat meresahkan dan menyusahkan kami para driver karena pelanggan membayar sesuai tarif yang tertera di aplikasi (Foto : Hasrullah)

Papua Tengah - Kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertamax (RON 92) dari Rp12.300 per liter menjadi Rp16.250 per liter dikeluhkan para pengemudi ojek online (Ojol) di Merauke. Mereka menilai kenaikan tersebut semakin membebani biaya operasional, sementara tarif layanan ojek online masih belum mengalami penyesuaian.

Salah satu pengemudi ojol di Merauke Hasrullah, mengatakan bahwa kenaikan harga BBM berdampak langsung pada pendapatan bersih para pengemudi. Menurutnya, meskipun jumlah penumpang dan pendapatan harian relatif stabil karena pelanggan tetap menggunakan layanan seperti biasa, pengeluaran untuk bahan bakar meningkat cukup signifikan.

“Kenaikan harga BBM sangat meresahkan dan menyusahkan kami para driver karena pelanggan membayar sesuai tarif yang tertera di aplikasi,” ujar Hasrullah.

Baca juga: Apa itu Daun Gatal Papua? Simak Fakta Menarik Tanaman Tradisional Ini

Ia menjelaskan, saat ini harga Pertamax telah mencapai Rp16.250 per liter. Para pengemudi terpaksa menggunakan Pertamax karena ketersediaan Biosolar maupun Pertalite di Merauke dinilai sulit diperoleh.

Hasrullah mengungkapkan, untuk memperoleh pendapatan sekitar Rp400.000 per hari, seorang pengemudi harus mengisi penuh tangki bahan bakar hingga dua kali. Setiap kali pengisian membutuhkan biaya sekitar Rp45.000, sehingga total pengeluaran untuk BBM mencapai Rp90.000 per hari.

“Kalau sudah dikurangi biaya bensin, makan, dan kebutuhan lainnya, uang bersih yang tersisa hanya sekitar Rp200.000,” katanya.

Ia bersama rekan-rekan sesama pengemudi mengaku tidak setuju dengan kebijakan kenaikan harga BBM tersebut. Menurut mereka, solusi yang lebih diharapkan bukanlah kenaikan tarif ojek online, melainkan pengembalian harga BBM ke tarif sebelumnya agar beban operasional pengemudi dapat berkurang.

Hasrullah juga menilai kenaikan harga BBM berpotensi memicu kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok lainnya. Jika hal itu terjadi, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pengemudi ojol, tetapi juga masyarakat secara luas yang harus menghadapi tekanan ekonomi yang semakin berat.

“Kami berharap harga BBM bisa kembali normal karena kalau semua kebutuhan ikut naik, tentu akan semakin mempersulit kondisi ekonomi masyarakat,” pungkasnya.

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi

Sumber: Liputan Langsung

BERITA TERKAIT
BERITA TERBARU

Kenaikan Harga Pertamax Resahkan Pengemudi Ojek Online di Merauke

Close
Close
Close
Close
Link berhasil disalin!